NAMA : APRIZAL
NIM
: A1C112015
PRODI : PEND.KIMIA REG’12
MATA KULIAH : KIMIA ORGANIK II
DOSEN PENGAMPU : DRS. SYAMSURIZAL, M.Si
PERTANYAAN :
1) Jelaskan kemungkinan terbentuknya ikatan
rangkap tiga pada minyak yang memiliki asam lemak tak jenuh ?
Jawaban
Jawaban
1) Kita berangkat dari pengertian lemak dan
minyak itu terlebih dahulu. Lemak dan
minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol, kedua istilah ini berarti
“triester (dari) gliserol”. Perbedaan antara suatu lemak dan suatu minyak yaitu
pada temperature kamar lemak berbentuk padat sedangkan minyak berbentuk cair. Lemak
dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol. Keduanya memiliki struktur
yang sama. Perbedaan keduanya hanya ditentukan oleh titik lelehnya.
Strukturnya :
Seperti yang kita
ketahui bahwa asam lemak tak jenuh ini memiliki ikatan rangkap dua dan seperti
ini gambar strukturnya :
Nah
yang jadi permasalahan disini, bisakah terbentuk ikatan rangkap tiga pada asam
lemak tak jenuh ini ?
Menurut saya, bisa saja kemungkinan
terbentuk ikatan rangkap tiga pada asam lemak tak jenuh. Agar terbentuk ikatan
rangkap 3, asam lemak ini harus direaksikan dengan halogen seperti Cl dan Br yang
besifat nukleofilik agar salah satu
ikatan hydrogen pada ikatan rangkap tersebut dapat tersubstitusi dan atom H
yang satunya lagi dapat ditarik oleh Basa kuat seperti NaOH atau KOH dan
menyebabkan gugus halide menjadi gugus pergi (leaving group) maka terbentuklah
ikatan rangkap 3.
Kedua
tahap reaksi ini dinamakan reaksi Halogenasi
dan Dehidrogenasi.
Pertama
asam lemak tak jenuh direaksikan dengan Br2, dimana ikatan Br-Br
akan menyerang atom C, yang akan menyerang C adalah Br (δˉ) . Dimana Br–
memiliki sifat nukleofil yang akan menyerang atom C yang bermuatan positif pada
ikatan rangkap. Kemudian elekton pada karbon berpindah posisi sehingga ikatan H
terlepas dan berikatan dengan Br yang lain.
Gambar Mekanisme
Reaksi Halogenasi :
Disini asam lemak yang digunakan adalah Asam
oleat. Strukturnya sebagai berikut ;
Selanjutnya
Asam lemak tak jenuh ini direaksikan dengan basa kuat seperti NaOH agar ikatan
H terputus dan gugus Br – pergi. Proses ini dinamakan reaksi
dehidrogenasi.
Mekanisme
reaksinya ;
Seperti yang terlihat pada gambar diatas,
diketahui bahwa Na bermuatan positif dan OH bermuatan negative, Na+
pada NaOH akan menyerang Br dan mengakibatkan rantai dari atom Br tadi putus
dan bertumpang tinggi pada atom C sehingga ikatan C yang awalnya tadi rangkap 2
bisa menjadi rangkap 3 dikarenakan Br terputus. Setelah terbentuk ikatan C
rangkap tiga, C yang mengikat atom H akan tidak stabil dikarenakan memiliki 5
tangan sedangkan seharusnya C akan stabil bila memiliki 4 tangan. Sehingga atom
H akan diputuskan agar C pada lemak tak jenuh ini stabil. Terbentuk lah ikatan
rangkap tiga pada lemak tak jenuh, kemudian H yang terputus tadi akan berikatan
dengan OH membentuk molekul air (H2O).
2) Jelaskan bagaimana proses
pencucian/penyabunan menggunakan pelarut organik bebas air ?
Jawaban
Jawaban
Ada
baiknya, kita berangkat dari pengertian sabun terlebih dahulu. Sabun adalah garam
logam alkali ( biasanya garam natrium) dari asam-asam lemak. Sabun mengandung
terutama garam C16 dan C18, namun dapat juga mengandung
beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah.
Zat Surfaktan Pada Sabun
Ekor
: Hidrofobik (Group non-polar)
ü
Bersifat
hidrofobik dalam media air
ü
Bersifat
hidrofilik dalam media hidrokarbon
Kepala : Hidrofilik (Group
polar)
ü
Bersifat
hidrofilik dalam media air
ü
Bersifat
hidrofobik dalam media hidrokarbon
Reaksi Pembuatan Sabun
Kegunaan
sabun ialah kemampuannya dalam mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat
dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh 2 sifat sabun.
Ø Pertama, rantai hidrokarbon sebuah molekul
sabun larut dalam zat non-polar, seperti tetesan-tetesan minyak.
Ø Kedua, ujung anion molekul sabun yang
tertarik pada molekul air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang
menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes-tetes
sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tetap
tersuspensi.
Seperti
yang pernah dibahas pada pertemuan perkuliahan sebelumnya, bahwa ide pembersih
kotoran adalah melarut. Keyword nya melarut (larut).
Kotoran
memiliki karakteristik polar dan non-polar, kemampuan sabun dalam mengikat
kotoran yaitu bagian yang polar maka akan berinteraksi dengan kotoran yang
bersifat polar pula dan begitu sebaliknya bagian non-polar berinteraksi dengan
kotoran yang bersifat non-polar. Kemudian, tinggal eksekusi saja dengan
penggerusan. Jika kotorannya sangat-sangat polar atau sangat-sangat non-polar,
maka tidak dapat digunakan sabun maka harus dicari pelarutnya sehingga kotoran
tersebut bisa larut.
Gaya
tarik antara dua molekul polar ( gaya tarik dipol-dipol) menyebabkan larutan
polar larut dalam larutan polar. Molekul polar mempunyai dipol yang permanen
sehingga menginduksi awan elektron non polar sehingga terbentuk dipol
terinduksi, maka larutan nonpolar dapat larut dalam non polar. Hal tersebut
dapat menjelaskan proses yang terjadi saat kita mencuci tangan. Saat pencucian
tangan, air yang merupakan senyawa polar menginduksi awan elektron sabun
sehingga dapat membantu larutnya asam lemak yang juga merupakan senyawa non
polar. Maka dari itu, bila kita mencuci tangan dengan menggunkan sabun, lemak
yang menempel pada tangan akan melarut bersama sabun dengan bantuan air.
Nah yang jadi
permasalahan disini, bagaimana proses pencucian/penyabunan menggunakan pelarut
organik bebas air ?
Menurut saya, air
bisa saja digantikan dengan pelarut organic pada kasus diatas. Kelarutan
suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi
kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara
molekul-molekul air. Jadi,
pelarut organic yang bisa menggantikan air adalah pelarut yang mampu menyamai gaya
tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol).
Contohnya : Aseton dan Asam format
Solvent
|
||||
Pelarut Non-Polar
|
||||
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3
|
69 °C
|
2.0
|
0.655 g/ml
|
|
C6H6
|
80 °C
|
2.3
|
0.879 g/ml
|
|
C6H5-CH3
|
111 °C
|
2.4
|
0.867 g/ml
|
|
CH3CH2-O-CH2-CH3
|
35 °C
|
4.3
|
0.713 g/ml
|
|
CHCl3
|
61 °C
|
4.8
|
1.498
g/ml
|
|
CH3-C(=O)-O-CH2-CH3
|
77 °C
|
6.0
|
0.894 g/ml
|
|
/-CH2-CH2-O-CH2-CH2-O-\
|
101 °C
|
2.3
|
1.033
g/ml
|
|
Tetrahidrofuran(THF)
|
/-CH2-CH2-O-CH2-CH2-\
|
66 °C
|
7.5
|
0.886 g/ml
|
Diklorometana(DCM)
|
CH2Cl2
|
40 °C
|
9.1
|
1.326
g/ml
|
CH3-C(=O)-CH3
|
56 °C
|
21
|
0.786 g/ml
|
|
Asetonitril (MeCN)
|
CH3-C≡N
|
82 °C
|
37
|
0.786 g/ml
|
Dimetilformamida(DMF)
|
H-C(=O)N(CH3)2
|
153 °C
|
38
|
0.944 g/ml
|
Dimetil sulfoksida(DMSO)
|
CH3-S(=O)-CH3
|
189 °C
|
47
|
1.092
g/ml
|
Pelarut
Polar Protic
|
||||
CH3-C(=O)OH
|
118 °C
|
6.2
|
1.049
g/ml
|
|
CH3-CH2-CH2-CH2-OH
|
118 °C
|
18
|
0.810 g/ml
|
|
Isopropanol (IPA)
|
CH3-CH(-OH)-CH3
|
82 °C
|
18
|
0.785 g/ml
|
CH3-CH2-CH2-OH
|
97 °C
|
20
|
0.803 g/ml
|
|
CH3-CH2-OH
|
79 °C
|
30
|
0.789 g/ml
|
|
CH3-OH
|
65 °C
|
33
|
0.791 g/ml
|
|
H-C(=O)OH
|
100 °C
|
58
|
1.21
g/ml
|
|
H-O-H
|
100 °C
|
80
|
1.000 g/ml
|
|
Aseton
digunakan sebagai pelarut aportik polar dalam kebanyakan reaksi organik,
seperti reaksi SN2. Penggunaan pelarut aseton juga berperan penting
pada oksidasi Jones. Oleh karena polaritas aseton yang menengah, ia melarutkan
berbagai macam senyawa. Sehingga ia umumnya ditampung dalam botol cuci dan
digunakan sebagai untuk membilas peralatan gelas laboratorium.
Tetapi jika ditinjau dari segi konstanta
dielektrik yang bisa digunakan sebagai pengganti air adalah asam format dimana
konstanta dielektriknya adalah 58. Akan tetapi asam format sangat mudah
terbakar , bersifat korosif, iritasi selain itu juga berbahaya jika terhirup
oleh kita. Oleh karena itu, sangat beresiko jika menggunakan asam format
sebagai pelarut dalam proses pencucian.
3) Bagaimana cara kerja indra pengecap sehingga
dapat menimbulkan cita rasa manis contohnya pada fruktosa ?
Jawaban
Jawaban
Seperti
yang kita ketahui, lidah merupakan indera pengecap. Dengan adanya lidah inilah,
kita bisa merasakan rasa dari suatu makanan atau minuman yang masuk kedalam
mulut kita. Lidah terletak di dalam mulut. Lidah berwarna merah dan
permukaannnya tidak rata. Lidah terdiri atas dua kelompok otot yaitu otot
intrinsik dan otot ekstrinsik. Otot intrinsik berfungsi untuk
melakukan semua gerakan lidah. Otot ekstrinsik berfungsi mengaitkan
lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta membantu melakukan gerakan menekan
makanan pada langit-langit dan gigi, kemudian mendorongnya masuk ke faring.
Lidah merupakan kumpulan otot rangka pada
bagian lantai mulut yang ditutup oleh membran mukosa (selaput lendir). Selaput
lendir ini tampak kasar karena adanya tonjolan-tonjolan yang disebut papila yang
merupakan akhiran-akhiran saraf pengecap dan terletak pada seluruh permukaan
lidah. Saraf-saraf pengecap inilah yang dapat membedakan rasa makanan. Jumlah papila
pada setiap orang belum tentu sama. Biasanya perempuan memiliki papila lebih
banyak daripada laki-laki. Orang yang mempunyai banyak papila akan lebih
peka terhadap rasa.
Ujung
saraf pengecap berada di taste buds pada seluruh permukaan lidah. Dengan
demikian zat-zat kimia yang terlarut dalam saliva akan mengadakan kontak dan
merangsang ujung-ujung serabut saraf pengecap kemudian timbul impuls yang akan
menjalar ke nervus facial (VII) dan nervus glossopharyngeal (IX). Impuls dari
daerah lain selain lidah berjalan melalui nervus vagus (X). Impuls di ketiga
saraf tersebut menyatu di medula oblongata untuk masuk ke nukleus traktus
solitarius. Dari sana, axon berjalan membawa sinyal dan bertemu dengan
leminiskus medialis kemudian akan disalurkan ke daerah insula. Impuls
diproyeksikan ke daerah cortex serebrum di postcentral gyrus kemudian dihantar
ke thalamus dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke
dalam mulut kita.
Tiap
rasa utama tersebut tidak mutlak sebagai proses spesifik, artinya rasa oleh
masing-masing ion atau molekul zat tersebut dapat bereaksi pada saat yang
berlainan dengan setiap epitel neuron ujung serabut syaraf pengecapan. Jadi
setiap taste buds dapat bereaksi untuk semua rasa walau dengan intensitas
berbeda.
Secara
garis besar, proses pengecapan rasa berlangsung melalui 3 tahap, yaitu:
resepsi, tranduksi sinyal dan respon. Tahap resepsi merupakan tahap pengenalan
sinyal yang memiliki rasa tertentu (tastan) oleh suatu reseptor. Tranduksi
sinyal meliputi reaksi bertahap dalam sel akibat adanya sinyal rasa. Respon
merupakan respon akhir sel-sel pengecap yang mengirimkan sinyal tersebut menuju
sistem saraf.
Tahap
resepsi menentukan jenis rasa dari suatu zat. Suatu zat yang memiliki rasa
tertentu akan mampu berikatan dengan molekul-molekul reseptor yang terdapat di
lidah. Sebagai contoh, konsumsi sukrosa
akan menyebabkan sukrosa terikat oleh reseptor rasa manis yang terdapat di
lidah. Begitu pula jika yang di konsumsi adalah molekul natrium glutamat maka
natrium glutamat ini akan terikat pada reseptor rasa gurih.
Reseptor
untuk rasa manis dan gurih pada sel pengecap berupa protein dari famili G
protein–coupled receptors (GPCRs), yang disebut T1R. Ada 3 gen dalam famili T1R. Dua gen yang
pertama, yaitu T1R1 dan T1R2 telah diidentifikasi pada tahun 1999 dengan
menganalisis urutan cDNA dari jaringan taste tikus. Gen ketiga, yaitu T1R3 yang
diidentifikasi pada tahun 2001 yang terdapat pada genom manusia. Dalam
melaksanakan kerjanya, T1R diekspresikan secara berpasangan. Reseptor
heteromerik T1R2/T1R3 merupakan reseptor untuk rasa manis. Reseptor ini dapat
secara selektif dapat merespon 20 pemanis yang diujikan pada konsentrasi
fisiologis yang relevan. Reseptor T1R1/T1R3 pada berbagai sel memiliki suatu
korelatif terhadap rasa gurih. Reseptor heteromerik tersebut dapat mengenali
glutamat pada konsentrasi efektifnya. Reseptor tersebut hanya merespon
glutamat, aspartat, dan L-2-amino-4-fosfonobutirat. Berbeda halnya dengan
reseptor T1R1/T1R3 tikus yang dapat mengenali semua asam L-amino. Saat ini
berbagai senyawa sintetik yang berbeda telah diketahui dapat dikenali oleh
reseptor T1R1/T1R3 dan T1R2/T1R3.
Reseptor
T1R merupakan suatu protein transmembran yang memiliki dua domain. Domain
pertama terdapat di luar sel yang berfungsi untuk mengikat tastan yang sesuai.
Domain kedua merupakan domain transmembran yang melakukan kopling dengan
protein G yang berfungsi dalam tranduksi sinyal.
Proses
tranduksi sinyal pada sistem rasa melalui G protein dan second messenger berupa
fosfolipase C. Pengikatan tastan pada
reseptor menyebabkan perubahan konformasi pada domain transmembran reseptor.
Perubahan konformasi tersebut mempengaruhi interaksi reseptor dengan protein G
stimulatori (Gs). Reseptor T1R3 biasanya terikat pada subunit G(alpha) 14 atau
subunit G(alpha) lainnya. Subunit G(alpha) terikat pada subunit G(beta, gamma),
seperti subunit G(gamma) 13 dan G(beta1) atau G(beta3). Perubahan konformasi
domain transmembran reseptor menyebabkan subunit G(beta, gamma) terlepas dan
bergerak sepanjang membran sel. G(beta,
gamma) yang terlepas akan beriteraksi dengan enzim fosfolipase C (PLC) b2. PLCb2
merupakan isoform enzim PLC yang unik karena teraktivasi oleh subunit G(beta,
gamma), sedangkan isoform PLC pada umumnya teraktivasi oleh subunit G(alpha).
Interaksi antara subunit G(beta, gamma) dengan PLCb2 mengaktifkan aktivitas
enzim tersebut. Enzim PLC dapat menghidrolisis fosfatidilinositol 4,5-bisfosfat
menghasilkan inositol trisfosfat (IP3) and diasilgliserol.
Salah
satu produk hidrolisis tersebut adalah IP3. IP3 merupakan senyawa larut dalam
air, yang akan berdifusi dari membran plasma menuju sitosol dan akhirnya menuju
retikulum endoplasma (Nelson dan Cox, 2004). Pada permukaan retikulum
endoplasma terdapat rseptor spesifik untuk IP3, yaitu: IP3R. Reseptor IP3R
tersebut merupakan suatu ion channel yang akan terbuka apabila terikat dengan
IP3. Pengikatan tersebut membuka channel ion, sehingga ion Ca2+ yang terdapat
dalam retikulum endoplasma berdifusi menuju sitosol. Konsentrasi ion Ca2+ yang
terdapat di sitosol meningkat drastis dari konsentrasi kurang dari 10-7 M
menjadi sekitar 10-6. Peningkatan kandungan ion Ca2+ intraseluler menyebabkan terjadinya dua hal
dalam sel-sel pengecap. Pertama, pembukaan kanal kation selektif pengecapan
(TPRM5) di membran plasma. Kedua, pembukaan gap junction hemichannel.
Peningkatan
kadar Ca2+ intraseluler menyebabkan kanal ion TPRM5 menjadi terbuka.
Ion Na+ yang konsentrasi di luar sel lebih tinggi dibanding intraseluler akan
berdifusi masuk melalui kanal ion TPRM5 tersebut. Hal ini menyebabkan
terjadinya depolarisasi tegangan potensial membran sel. Depolarisasi tersebut
dan adanya peningkatan kadar ion Ca2+ intraseluler menyebabkan
terbukanya gap junction hemichannel. Terbukanya hemichannel tersebut
menyebabkan berbagai molekul seperti
transmitter taste bud, ATP dan molekul-molekul lain mengalami difusi
keluar sel.
Aktivasi
TPRM5 dapat ditingkatkan dengan meningkatkan temperatur. Pada temperatur yang
lebih tinggi, meningkatnya aktivitas TPRM5 dapat meningkatkan intensitas rasa
manis yang dapat dikecap oleh lidah. Hal ini dapat menjelaskan bahwa es krim
yang mengandung kadar gula yang sama dengan teh hangat akan terasa kurang manis
(Ishimaru and Matsunami, 2009).
Fruktosa
merupakan sejenis gula yang terdapat pada madu dan buah-buahan. Fruktosa adalah
bentuk isomer glukosa dan merupakan salah satu komponen penyusun sukrosa.
Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa, CH2O, namun memiliki
struktur yang berbeda. Susunan atom dalam fruktosa merangsang jonjot kecapan
pada lidah sehingga menimbulkan rasa manis. Di dalam tubuh, fruktosa meupakan
hasil pemecahan dari sukrosa.
Pada
saat kita mengkonsumsi fruktosa. Fruktosa ini akan melekta pada reseptor rasa
manis di lidah. Kemudian hal ini akan mengaktifkan stimulator yang terdapat
pada sitoplasma yang terdapat pada membran. Stimulator (protein G) akan teraktivasi
selanjutnya akan mengaktifkan enzim adenilat siklase. Enzim ini akan
mengaktifkan pembentukan Camp dari ATP. Terjadinya peningkatan camp akan
mengakibatkan terstimulasinya enzim sitoplasma lainnya. Hal ini akan membuat
ion K dapat keluar sehingga mengakibatkan depolarisasi pada sel pengecap. Hal
ini akan mengakibatkan terlepasnya neotransmiter ke sinaps dan selanjutnya
impuls akan diteruskan kesaraf sensorik menuju pusat saraf, sehingga dapat
disadari rasa manis oleh otak.
4) Jelaskan hubungan hormone oksitosin dengan
signal gelombang α dan θ yang dikeluarkan oleh otak ?
Jawaban
Jawaban
Berdasarkan literature yang telah saya
abaca, dikatakan bahwa Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi di
hipotalamus dan diangkut lewat aliran aksoplasmik ke hipofisis posterior yang
jika mendapatkan stimulasi yang tepat hormon ini akan dilepas kedalam darah.
Hormon ini di beri nama oksitosin berdasarkan efek fisiologisnya yakni
percepatan proses persalinan dengan merangsang kontraksi otot polos uterus.
Peranan fisiologik lain yang dimiliki oleh hormon ini adalah meningkatkan
ejeksi ASI dari kelenjar mammae.
Bagaimana Oksitosin
dikeluarkan ?
Impuls neural yang terbentuk dari
perangsangan papilla mammae merupakan stimulus primer bagi pelepasan oksitosin
sedangkan distensi vagina dan uterus merupakan stimulus sekunder. Estrogen akan
merangsang produksi oksitosin sedangkan progesterone sebaliknya akan menghambat produksi
oksitosin. Selain di hipotalamus, oksitosin juga disintesis di kelenjar gonad,
plasenta dan uterus mulai sejak kehamilan 32 minggu dan seterusnya. Konsentrasi
oksitosin dan juga aktivitas uterus akan meningkat pada malam hari.
Pelepasan oksitosin endogenus
ditingkatkan oleh:
·
Persalinan
·
Stimulasi
serviks, vagina dan payudara
·
Estrogen yang beredar dalam darah
·
Peningkatan
osmolalitas/konsentrasi plasma
·
Volume cairan yang rendah dalam sirkulasi
darah
·
Stress,
stress yang disebabkan oleh tangisan bayi akan menstimulasi pengeluaran ASI
Pelepasan oksitosin disupresi
oleh:
·
Alkohol
·
Relaksin
·
Penurunan
osmolalitas/konsentrasi plasma
·
Volume
cairan yang tinggi dalam sirkulasi darah
Otak merupakan pusat koordinasi di dalam
tubuh dan memiliki peran yang sangat penting. Diketahui bahwa otak kita tak
terdiri dari milyaran sel otak yang disebut neuron.Setiap neuron saling
berkomunikasi (menjalin hubungan) dengan memancarkan gelombang listrik.
Gelombang listrik yang dikeluarkan oleh neuron dalam otak inilah yang disebut
"gelombang otak" atau brainwave. Jadi yang disebut gelombang otak
adalah "arus listrik" yang dikeluarkan oleh otak.
Karakteristik sinyal gelombang yang
dikeluarkan oleh otak sebagai berikut :
Gelombang Delta: Penyembuhan,
Tidur Sangat Nyenyak
Kondisi Delta (0.5-4 Hz), saat
gelombang otak semakin melambat, sering dihubungkan dengan kondisi tidur yang
sangat dalam. Beberapa frekuensi dalam jangkauan Delta ini diiringi dengan
pelepasan hormon pertumbuhan manusia (Human Growth Hormone), yang bermanfaat
dalam penyembuhan. Kondisi Delta, jika dihasilkan dalam kondisi terjaga, akan
menyediakan peluang untuk mengakses aktivitas bawah sadar, mendorong alirannya
ke pikiran sadar. Kondisi Delta juga sering dihubungkan dengan manusia-manusia
yang memiliki perasaan kuat terhadap empati dan intuisi.
Gelombang Theta: Relaksasi
mendalam, Meditasi, Peningkatan Memori
Lebih lambat dari Beta, kondisi
gelombang otak Theta (4-8 Hz) muncul saat kita bermimpi pada tidur ringan. Atau
juga sering dinamakan sebagai mengalami mimpi secara sadar. Frekuensi Theta ini
dihubungkan dengan pelepasan stress dan pengingatan kembali memori yang telah
lama. Kondisi “senjakala” (twilight) dapat digunakan untuk menuju meditasi yang
lebih dalam, menghasilkan peningkatan kesehatan secara keseluruhan, kebutuhan
kurang tidur, meningkatkan kreativitas dan pembelajaran.
Gelombang Alpha: Kreativitas,
Relaksasi, Visualisasi
Gelombang otak Alpha (8-13 Hz)
sangat kontras dibandingkan dengan kondisi Beta. Kondisi relaks mendorong
aliran energi kreativitas dan perasaan segar, sehat. Kondisi gelombang otak
Alpha ideal untuk perenungan, memecahkan masalah, dan visualisasi, bertindak
sebagai gerbang kreativitas kita.
Gelombang Beta: Waspada, Konsentrasi
Kondisi gelombang otak Beta (13-30
Hz) menjaga pikiran kita tetap tajam dan terfokus. Dalam kondisi Beta, otak
Anda akan mudah melakukan analisis dan penyusunan informasi, membuat koneksi,
dan menghasilkan solusi-solusi serta ide-ide baru. Beta sangat bermanfaat untuk
produktivitas kerja, belajar untuk ujian, persiapan presentasi, atau aktivitas
lain yang membutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan tinggi.
Lalu apa hubungannya hormone
oksitosin dengan signal gelombang α dan θ yang dikeluarkan oleh otak ??
Seperti yang telah dikatakan diatas bahwa
hormon oksitosin merupakan hormon yang yang berfungsi untuk merangsang
kontraksi yang kuat pada dinding Rahim (uterus) sehingga mempermudah dalam
membantu proses kelahiran. Hormone ini akan mengantarkan pesan / sinyal ke otak
melalui Neurotransmiter. Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus
membawa sinyal di antara neuron. Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel
sinapsis, sebelum dilepaskan bertepatan dengan datangnya potensial aksi.
Sehingga neuron pada otak berinteraksi
menghasilkan gelombang listrik yang berupa gelombang otak alfa dan gelombang
otak theta.
Pada saat proses kelahiran si ibu yang akan
melahirkan itu pasti takut/cemas, stress dan deg-degan. Kondisi seperti inilah
yang akan menghambat kinerja hormone oksitosin dengan otak untuk membentuk pola
gelombang otak alfa dan teta. Hal ini bisa menyebabkan si ibu yang mau
melahirkan mengalami pendarahan yang hebat dan bisa mengakibatkan kematian.
Pada
kondisi ini dokter berusaha membentuk pola gelombang otak alfa dan tetha pada
si ibu yang mau melahirkan, dengan cara dokter menyuruh si ibu menarik nafas
dalam-dalam dan di keluarkan secara perlahan- lahan (rileksasi) agar kondisi
ibu tenang dan proses kelahiran dapat berjalan dengan baik.
Karena hormone oksitosin ini sangat penting
dalam persalinan serta untuk menghindari pendarahan berlebih. Seperti yang
dikatakan diatas bahwa hormone oksitosin ini disekresikan lebih banyak pada
malam hari. Dimana ini merupakan waktu gelombang alfha dan tetha. Oleh karena
itu biasanya dokter akan membantu ibu yang hendak melahirkan untuk rileks,
mencoba memasuki gelombang alfha dan tetha sehingga ibu merasa nyaman dan tidak
cemas. Sehingga hormone oksitosin dapat diproduksi dengan baik dan mempercepat
proses kelahiran tanpa gangguan.
5) Jelaskan bagaimana sifat basa dapat dihasilkan
oleh gugus OH- pada sakarida ? kaitkan dengan konsep asam dan basa !
Jawaban
Jawaban
Karbohidrat adalah kelompok senyawa yang
mengandung unsur C, H, dan O. senyawa-senyawa karbohidrat memiliki sifat
pereduksi karena adanya gugus karbonil dalam bentuk aldehid atau keton. Senyawa
ini juga memiliki banyak gugus hidroksil. Karena itu, karbohidrat merupakan
suatu polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton atau turunan senyawa-senyawa
tersebut
Karbohidrat merupakan persenyawaan antara
karbon, hidrogen dan oksigen yang terdapat dalam alam dengan rumus empiris
Cn(H2O)n. Melihat rumus empiris tersebut, maka senyawa ini pernah diduga
sebagai hidrat dari karbon, sehingga disebut karbohidrat.
Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida.
Kata sakarida berasal dari kata Arab “sakkar” yang artinya gula. Karbohidrat
sederhana mempunyai rasa manis sehingga dikaitkan dengan gula. Berdasarkan
gugus fungsinya, karbohidrat merupakan suatu polihidroksialdehida atau
polihidroksi keton.
Karbohidrat berasal dari hidrat
suatu karbon dengan rumus empiris Cx(H2O)y, merupakan polihidroksi-aldehid (-C=O)
polihidroksi–keton (-C-C=O(COH) dan turunannya.
Berdasarkan hasil
hidrolisis dan strukturnya, karbohidrat dibagi atas tiga golongan besar yaitu:
a) Monosakarida
Monosakarida adalah karbohidrat yang tak
dapat dihidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana. Jika didasarkan pada
gugus fungsinya, maka monosakarida secara keseluruhan dibagi atas dua golongan,
yaitu ;
·
Aldosa,
jika mengandung gugus aldehida. Contoh glukosa, galaktosa, ribosa
·
Ketosa
jika mengandung gugus keton. Contoh fruktosa
b)
Oligosakarida
Oligosakarida adalah karnohidrat yang
terbentuk dari kondensasi dua satuan monosakarida yang terikat antara satu
dengan yang lainnya melalui ikatan glikosida dalam posisi 1,4 alfa atau 1,4
beta. Oligosakarida yang paling banyak ditemukan adalah disakarida.
Contoh : Sukrosa, Maltosa, dan Laktosa
c)
Polisakarida
Polisakarida tersusun dari banyak unit monoskarida
yang terikat antara satu dengan yang lain melalui ikatan glikosida. Hidrolisis
total dari polisakarida menghasilakan monosakarida.
Contoh : Selulosa, Amilum, Glikogen.
Sukrosa juga termasuk karbohidrat yang termasuk
golongan disakarida karena terdiri dari glukosa dan fruktosa. Monosakarida ini
dihubungkan oleh ikatan glikosidik yang berada pada C1 pada glukosa dan C1 pada
fruktosa.
Pada
fruktosa , atom C1 terdapat gugus OH yang bersifat basa sehingga menarik Atom H
pada C1 di glukosa sehingga terbentuk molekul H2O yang menyebabkan
gugus OH terputus pada fruktosa dan membentuk karbokation dan atom O pada glukosa
ini memiliki electron bebas dan akan menarik karbonkation pada fruktosa
sehingga membentuk ikatan 1,1-glikosidik yang menghubungkan kedua monosakarida
tersebut.
Karena
gugus OH- menarik ion H+
Maka sifat basa ini seperti konsep asam-basa Bronsted-Lowry yang dimana
OH- sebagai Aseptor ( menerima proton H+ ).
Dapat
dilihat pada setiap jenis sakarida di atas banyak terdapat gugus hidroksil (-OH-) pada setiap
molekulnya. Untuk melihat sifat basa pada sakarida dapat dilihat pada disakarida,
dimana disakarida terbentuk dari reaksi kondensasi dua molekul monosakarida.
Reaksi kondensasi sendiri adalah reaksi penggabungan antara dua senyawa yang
memiliki gugus fungsi dengan menghasilkan molekul yang lebih besar. Dalam
reaksi ini biasanya dibebaskan air. Gugus fungsi yang bereaksi yaitu gugus
fungsi bersifat basa dengan gugus fungsi bersifat asam.
Pada
pembentukan disakarida, reaksi yang terjadi melibatkan gugus –OH dari atom C
anomerik pada monosakarida pertama, dengan suatu gugus –OH yang terikat pada
suatu atom C dari monosakarida kedua. Jenis ikatan yang terbentuk adalah ikatan
kovalen antara atom C anomerik dengan atom O. Ikatan ini disebut dengan ikatan
glikosida (ikatan C-O). Jadi dapat dilihat bahwa pada sakarida memiliki sifat
basa karena seperti dalam teori asam basa, bahwa menurut Arhenius basa adalah
senyawa yang memiliki gugus hidroksil dan melepaskan gugus hidroksil dalam
larutan air.
Pada
sakarida banyak mengandung gugus hidroksil dan tidak semua gugus OH bersifat
basa. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pada C1 di
fruktosa gugus OH ini bersifat basa karena menarik atom H dari glukosa sehingga
membentuk molekul H2O. Dan untuk Glukosa gugus OH yang bersifat Basa adalah
atom C1 juga karena pada ikatan yang menghubungkan glukosa dengan glukosa pada
maltosa adalah ikatan 1,4-glikosidik dan C4 gugus OH nya melepaskan H+

















