Sabtu, 12 Juli 2014

UJIAN AKHIR SEMESTER KIMIA ORGANIK II

NAMA   : APRIZAL
NIM     : A1C112015
PRODI   : PEND.KIMIA REG’12
MATA KULIAH      : KIMIA ORGANIK II
DOSEN PENGAMPU : DRS. SYAMSURIZAL, M.Si


PERTANYAAN :

1)    Jelaskan kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap tiga pada minyak yang memiliki asam lemak tak jenuh ?

Jawaban


1)          Kita berangkat dari pengertian lemak dan minyak  itu terlebih dahulu. Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol, kedua istilah ini berarti “triester (dari) gliserol”. Perbedaan antara suatu lemak dan suatu minyak yaitu pada temperature kamar lemak berbentuk padat sedangkan minyak berbentuk cair. Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol. Keduanya memiliki struktur yang sama. Perbedaan keduanya hanya ditentukan oleh titik lelehnya.
Strukturnya :

            Seperti yang kita ketahui bahwa asam lemak tak jenuh ini memiliki ikatan rangkap dua dan seperti ini gambar strukturnya :


         Nah yang jadi permasalahan disini, bisakah terbentuk ikatan rangkap tiga pada asam lemak tak jenuh ini ?
Menurut saya, bisa saja kemungkinan terbentuk ikatan rangkap tiga pada asam lemak tak jenuh. Agar terbentuk ikatan rangkap 3, asam lemak ini harus direaksikan dengan halogen seperti Cl dan Br yang besifat nukleofilik  agar salah satu ikatan hydrogen pada ikatan rangkap tersebut dapat tersubstitusi dan atom H yang satunya lagi dapat ditarik oleh Basa kuat seperti NaOH atau KOH dan menyebabkan gugus halide menjadi gugus pergi (leaving group) maka terbentuklah ikatan rangkap 3.
         Kedua tahap reaksi ini dinamakan reaksi Halogenasi dan Dehidrogenasi.
Pertama asam lemak tak jenuh direaksikan dengan Br2, dimana ikatan Br-Br akan menyerang atom C, yang akan menyerang C adalah Br (δˉ) . Dimana Br memiliki sifat nukleofil yang akan menyerang atom C yang bermuatan positif pada ikatan rangkap. Kemudian elekton pada karbon berpindah posisi sehingga ikatan H terlepas dan berikatan dengan Br yang lain.

Gambar Mekanisme Reaksi Halogenasi :



  Disini asam lemak yang digunakan adalah Asam oleat. Strukturnya sebagai berikut ;

          Selanjutnya Asam lemak tak jenuh ini direaksikan dengan basa kuat seperti NaOH agar ikatan H terputus dan gugus Br pergi. Proses ini dinamakan reaksi dehidrogenasi.
    Mekanisme reaksinya ;

Seperti yang terlihat pada gambar diatas, diketahui bahwa Na bermuatan positif dan OH bermuatan negative, Na+ pada NaOH akan menyerang Br dan mengakibatkan rantai dari atom Br tadi putus dan bertumpang tinggi pada atom C sehingga ikatan C yang awalnya tadi rangkap 2 bisa menjadi rangkap 3 dikarenakan Br terputus. Setelah terbentuk ikatan C rangkap tiga, C yang mengikat atom H akan tidak stabil dikarenakan memiliki 5 tangan sedangkan seharusnya C akan stabil bila memiliki 4 tangan. Sehingga atom H akan diputuskan agar C pada lemak tak jenuh ini stabil. Terbentuk lah ikatan rangkap tiga pada lemak tak jenuh, kemudian H yang terputus tadi akan berikatan dengan OH membentuk molekul air (H2O).

2)   Jelaskan bagaimana proses pencucian/penyabunan menggunakan pelarut organik bebas air ?

Jawaban


Ada baiknya, kita berangkat dari pengertian sabun terlebih dahulu. Sabun adalah garam logam alkali ( biasanya garam natrium) dari asam-asam lemak. Sabun mengandung terutama garam C16 dan C18, namun dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah.

Zat Surfaktan Pada Sabun

Ekor : Hidrofobik (Group non-polar)
ü  Bersifat hidrofobik dalam media air
ü  Bersifat hidrofilik dalam media hidrokarbon

Kepala : Hidrofilik (Group polar)
ü  Bersifat hidrofilik dalam media air

ü  Bersifat hidrofobik dalam media hidrokarbon

Reaksi Pembuatan Sabun

    Kegunaan sabun ialah kemampuannya dalam mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh 2 sifat sabun.
Ø  Pertama, rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat non-polar, seperti tetesan-tetesan minyak.
Ø     Kedua, ujung anion molekul sabun yang tertarik pada molekul air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes-tetes sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tetap tersuspensi.

   Seperti yang pernah dibahas pada pertemuan perkuliahan sebelumnya, bahwa ide pembersih kotoran adalah melarut. Keyword nya melarut (larut).

Kotoran memiliki karakteristik polar dan non-polar, kemampuan sabun dalam mengikat kotoran yaitu bagian yang polar maka akan berinteraksi dengan kotoran yang bersifat polar pula dan begitu sebaliknya bagian non-polar berinteraksi dengan kotoran yang bersifat non-polar. Kemudian, tinggal eksekusi saja dengan penggerusan. Jika kotorannya sangat-sangat polar atau sangat-sangat non-polar, maka tidak dapat digunakan sabun maka harus dicari pelarutnya sehingga kotoran tersebut bisa larut.
Gaya tarik antara dua molekul polar ( gaya tarik dipol-dipol) menyebabkan larutan polar larut dalam larutan polar. Molekul polar mempunyai dipol yang permanen sehingga menginduksi awan elektron non polar sehingga terbentuk dipol terinduksi, maka larutan nonpolar dapat larut dalam non polar. Hal tersebut dapat menjelaskan proses yang terjadi saat kita mencuci tangan. Saat pencucian tangan, air yang merupakan senyawa polar menginduksi awan elektron sabun sehingga dapat membantu larutnya asam lemak yang juga merupakan senyawa non polar. Maka dari itu, bila kita mencuci tangan dengan menggunkan sabun, lemak yang menempel pada tangan akan melarut bersama sabun dengan bantuan air.

Nah yang jadi permasalahan disini, bagaimana proses pencucian/penyabunan menggunakan pelarut organik bebas air ?

Menurut saya, air bisa saja digantikan dengan pelarut organic pada kasus diatas. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air. Jadi, pelarut organic yang bisa menggantikan air adalah pelarut yang mampu menyamai gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol).


Contohnya : Aseton dan Asam format

    
       Solvent
          Rumus kimia
     Titik didih
    Massa jenis
        Pelarut Non-Polar
        Heksana 
     CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3
       69 °C
           2.0 
       0.655 g/ml
        Benzena
       C6H6
       80 °C
        2.3
      0.879 g/ml
        Toluena
      C6H5-CH3
      111 °C         
      2.4
      0.867 g/ml
       Dietil eter
       CH3CH2-O-CH2-CH3
       35 °C
      4.3
      0.713 g/ml
      Kloroform
     CHCl3  
      61 °C
       4.8
      1.498 g/ml
       Etil asetat
     CH3-C(=O)-O-CH2-CH3
        77 °C 
       6.0 
      0.894 g/ml
       Pelarut Polar Aprotic
      1,4-Dioksana
  /-CH2-CH2-O-CH2-CH2-O-\
        101 °C
           2.3
     1.033 g/ml
    Tetrahidrofuran(THF)
     /-CH2-CH2-O-CH2-CH2-\
         66 °C
          7.5 
      0.886 g/ml
    Diklorometana(DCM)
          CH2Cl2
        40 °C
          9.1
     1.326 g/ml
           Asetona
           CH3-C(=O)-CH3
        56 °C
             21
     0.786 g/ml
       Asetonitril (MeCN)  
         CH3-C≡N
          82 °C
           37
      0.786 g/ml
           H-C(=O)N(CH3)2
         153 °C
          38
      0.944 g/ml
          CH3-S(=O)-CH3
          189 °C
           47
     1.092 g/ml
         Pelarut Polar Protic
         Asam asetat
         CH3-C(=O)OH
       118 °C
      6.2
     1.049 g/ml
       - Butanol
     CH3-CH2-CH2-CH2-OH
      118 °C
       18
      0.810 g/ml
      Isopropanol (IPA) 
       CH3-CH(-OH)-CH3
       82 °C
      18
      0.785 g/ml
          n-Propanol
        CH3-CH2-CH2-OH
       97 °C
      20 
      0.803 g/ml
           Etanol
       CH3-CH2-OH
      79 °C
       30 
      0.789 g/ml
         Metanol
         CH3-OH
      65 °C
      33
      0.791 g/ml
           Asam format   
        H-C(=O)OH
      100 °C
       58
      1.21 g/ml
            Air
          H-O-H
       100 °C
      80
      1.000 g/ml



Aseton digunakan sebagai pelarut aportik polar dalam kebanyakan reaksi organik, seperti reaksi SN2. Penggunaan pelarut aseton juga berperan penting pada oksidasi Jones. Oleh karena polaritas aseton yang menengah, ia melarutkan berbagai macam senyawa. Sehingga ia umumnya ditampung dalam botol cuci dan digunakan sebagai untuk membilas peralatan gelas laboratorium.
Tetapi jika ditinjau dari segi konstanta dielektrik yang bisa digunakan sebagai pengganti air adalah asam format dimana konstanta dielektriknya adalah 58. Akan tetapi asam format sangat mudah terbakar , bersifat korosif, iritasi selain itu juga berbahaya jika terhirup oleh kita. Oleh karena itu, sangat beresiko jika menggunakan asam format sebagai pelarut dalam proses pencucian.

3)    Bagaimana cara kerja indra pengecap sehingga dapat menimbulkan cita rasa manis contohnya pada fruktosa ?

Jawaban

        Seperti yang kita ketahui, lidah merupakan indera pengecap. Dengan adanya lidah inilah, kita bisa merasakan rasa dari suatu makanan atau minuman yang masuk kedalam mulut kita. Lidah terletak di dalam mulut. Lidah berwarna merah dan permukaannnya tidak rata. Lidah terdiri atas dua kelompok otot yaitu otot intrinsik dan otot ekstrinsik. Otot intrinsik berfungsi untuk melakukan semua gerakan lidah. Otot ekstrinsik berfungsi mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta membantu melakukan gerakan menekan makanan pada langit-langit dan gigi, kemudian mendorongnya masuk ke faring.
           Lidah merupakan kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang ditutup oleh membran mukosa (selaput lendir). Selaput lendir ini tampak kasar karena adanya tonjolan-tonjolan yang disebut papila yang merupakan akhiran-akhiran saraf pengecap dan terletak pada seluruh permukaan lidah. Saraf-saraf pengecap inilah yang dapat membedakan rasa makanan. Jumlah papila pada setiap orang belum tentu sama. Biasanya perempuan memiliki papila lebih banyak daripada laki-laki. Orang yang mempunyai banyak papila akan lebih peka terhadap rasa.
           Ujung saraf pengecap berada di taste buds pada seluruh permukaan lidah. Dengan demikian zat-zat kimia yang terlarut dalam saliva akan mengadakan kontak dan merangsang ujung-ujung serabut saraf pengecap kemudian timbul impuls yang akan menjalar ke nervus facial (VII) dan nervus glossopharyngeal (IX). Impuls dari daerah lain selain lidah berjalan melalui nervus vagus (X). Impuls di ketiga saraf tersebut menyatu di medula oblongata untuk masuk ke nukleus traktus solitarius. Dari sana, axon berjalan membawa sinyal dan bertemu dengan leminiskus medialis kemudian akan disalurkan ke daerah insula. Impuls diproyeksikan ke daerah cortex serebrum di postcentral gyrus kemudian dihantar ke thalamus dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke dalam mulut kita.







Tiap rasa utama tersebut tidak mutlak sebagai proses spesifik, artinya rasa oleh masing-masing ion atau molekul zat tersebut dapat bereaksi pada saat yang berlainan dengan setiap epitel neuron ujung serabut syaraf pengecapan. Jadi setiap taste buds dapat bereaksi untuk semua rasa walau dengan intensitas berbeda.
Secara garis besar, proses pengecapan rasa berlangsung melalui 3 tahap, yaitu: resepsi, tranduksi sinyal dan respon. Tahap resepsi merupakan tahap pengenalan sinyal yang memiliki rasa tertentu (tastan) oleh suatu reseptor. Tranduksi sinyal meliputi reaksi bertahap dalam sel akibat adanya sinyal rasa. Respon merupakan respon akhir sel-sel pengecap yang mengirimkan sinyal tersebut menuju sistem saraf.

Tahap resepsi menentukan jenis rasa dari suatu zat. Suatu zat yang memiliki rasa tertentu akan mampu berikatan dengan molekul-molekul reseptor yang terdapat di lidah.  Sebagai contoh, konsumsi sukrosa akan menyebabkan sukrosa terikat oleh reseptor rasa manis yang terdapat di lidah. Begitu pula jika yang di konsumsi adalah molekul natrium glutamat maka natrium glutamat ini akan terikat pada reseptor rasa gurih.



Reseptor untuk rasa manis dan gurih pada sel pengecap berupa protein dari famili G protein–coupled receptors (GPCRs), yang disebut T1R.  Ada 3 gen dalam famili T1R. Dua gen yang pertama, yaitu T1R1 dan T1R2 telah diidentifikasi pada tahun 1999 dengan menganalisis urutan cDNA dari jaringan taste tikus. Gen ketiga, yaitu T1R3 yang diidentifikasi pada tahun 2001 yang terdapat pada genom manusia. Dalam melaksanakan kerjanya, T1R diekspresikan secara berpasangan. Reseptor heteromerik T1R2/T1R3 merupakan reseptor untuk rasa manis. Reseptor ini dapat secara selektif dapat merespon 20 pemanis yang diujikan pada konsentrasi fisiologis yang relevan. Reseptor T1R1/T1R3 pada berbagai sel memiliki suatu korelatif terhadap rasa gurih. Reseptor heteromerik tersebut dapat mengenali glutamat pada konsentrasi efektifnya. Reseptor tersebut hanya merespon glutamat, aspartat, dan L-2-amino-4-fosfonobutirat. Berbeda halnya dengan reseptor T1R1/T1R3 tikus yang dapat mengenali semua asam L-amino. Saat ini berbagai senyawa sintetik yang berbeda telah diketahui dapat dikenali oleh reseptor T1R1/T1R3 dan T1R2/T1R3.
Reseptor T1R merupakan suatu protein transmembran yang memiliki dua domain. Domain pertama terdapat di luar sel yang berfungsi untuk mengikat tastan yang sesuai. Domain kedua merupakan domain transmembran yang melakukan kopling dengan protein G yang berfungsi dalam tranduksi sinyal.
Proses tranduksi sinyal pada sistem rasa melalui G protein dan second messenger berupa fosfolipase C.  Pengikatan tastan pada reseptor menyebabkan perubahan konformasi pada domain transmembran reseptor. Perubahan konformasi tersebut mempengaruhi interaksi reseptor dengan protein G stimulatori (Gs). Reseptor T1R3 biasanya terikat pada subunit G(alpha) 14 atau subunit G(alpha) lainnya. Subunit G(alpha) terikat pada subunit G(beta, gamma), seperti subunit G(gamma) 13 dan G(beta1) atau G(beta3). Perubahan konformasi domain transmembran reseptor menyebabkan subunit G(beta, gamma) terlepas dan bergerak sepanjang membran sel.  G(beta, gamma) yang terlepas akan beriteraksi dengan enzim fosfolipase C (PLC) b2. PLCb2 merupakan isoform enzim PLC yang unik karena teraktivasi oleh subunit G(beta, gamma), sedangkan isoform PLC pada umumnya teraktivasi oleh subunit G(alpha). Interaksi antara subunit G(beta, gamma) dengan PLCb2 mengaktifkan aktivitas enzim tersebut. Enzim PLC dapat menghidrolisis fosfatidilinositol 4,5-bisfosfat menghasilkan inositol trisfosfat (IP3) and diasilgliserol.
Salah satu produk hidrolisis tersebut adalah IP3. IP3 merupakan senyawa larut dalam air, yang akan berdifusi dari membran plasma menuju sitosol dan akhirnya menuju retikulum endoplasma (Nelson dan Cox, 2004). Pada permukaan retikulum endoplasma terdapat rseptor spesifik untuk IP3, yaitu: IP3R. Reseptor IP3R tersebut merupakan suatu ion channel yang akan terbuka apabila terikat dengan IP3. Pengikatan tersebut membuka channel ion, sehingga ion Ca2+ yang terdapat dalam retikulum endoplasma berdifusi menuju sitosol. Konsentrasi ion Ca2+ yang terdapat di sitosol meningkat drastis dari konsentrasi kurang dari 10-7 M menjadi sekitar 10-6. Peningkatan kandungan ion Ca2+  intraseluler menyebabkan terjadinya dua hal dalam sel-sel pengecap. Pertama, pembukaan kanal kation selektif pengecapan (TPRM5) di membran plasma. Kedua, pembukaan gap junction hemichannel.

Peningkatan kadar Ca2+ intraseluler menyebabkan kanal ion TPRM5 menjadi terbuka. Ion Na+ yang konsentrasi di luar sel lebih tinggi dibanding intraseluler akan berdifusi masuk melalui kanal ion TPRM5 tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya depolarisasi tegangan potensial membran sel. Depolarisasi tersebut dan adanya peningkatan kadar ion Ca2+ intraseluler menyebabkan terbukanya gap junction hemichannel. Terbukanya hemichannel tersebut menyebabkan berbagai molekul seperti  transmitter taste bud, ATP dan molekul-molekul lain mengalami difusi keluar sel.
Aktivasi TPRM5 dapat ditingkatkan dengan meningkatkan temperatur. Pada temperatur yang lebih tinggi, meningkatnya aktivitas TPRM5 dapat meningkatkan intensitas rasa manis yang dapat dikecap oleh lidah. Hal ini dapat menjelaskan bahwa es krim yang mengandung kadar gula yang sama dengan teh hangat akan terasa kurang manis (Ishimaru and Matsunami, 2009).
Fruktosa merupakan sejenis gula yang terdapat pada madu dan buah-buahan. Fruktosa adalah bentuk isomer glukosa dan merupakan salah satu komponen penyusun sukrosa. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa, CH2O, namun memiliki struktur yang berbeda. Susunan atom dalam fruktosa merangsang jonjot kecapan pada lidah sehingga menimbulkan rasa manis. Di dalam tubuh, fruktosa meupakan hasil pemecahan dari sukrosa.
Pada saat kita mengkonsumsi fruktosa. Fruktosa ini akan melekta pada reseptor rasa manis di lidah. Kemudian hal ini akan mengaktifkan stimulator yang terdapat pada sitoplasma yang terdapat pada membran. Stimulator (protein G) akan teraktivasi selanjutnya akan mengaktifkan enzim adenilat siklase. Enzim ini akan mengaktifkan pembentukan Camp dari ATP. Terjadinya peningkatan camp akan mengakibatkan terstimulasinya enzim sitoplasma lainnya. Hal ini akan membuat ion K dapat keluar sehingga mengakibatkan depolarisasi pada sel pengecap. Hal ini akan mengakibatkan terlepasnya neotransmiter ke sinaps dan selanjutnya impuls akan diteruskan kesaraf sensorik menuju pusat saraf, sehingga dapat disadari rasa manis oleh otak.

4)    Jelaskan hubungan hormone oksitosin dengan signal gelombang α dan θ yang dikeluarkan oleh otak ?

Jawaban


Berdasarkan literature yang telah saya abaca, dikatakan bahwa Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi di hipotalamus dan diangkut lewat aliran aksoplasmik ke hipofisis posterior yang jika mendapatkan stimulasi yang tepat hormon ini akan dilepas kedalam darah. Hormon ini di beri nama oksitosin berdasarkan efek fisiologisnya yakni percepatan proses persalinan dengan merangsang kontraksi otot polos uterus. Peranan fisiologik lain yang dimiliki oleh hormon ini adalah meningkatkan ejeksi ASI dari kelenjar mammae.

Bagaimana Oksitosin dikeluarkan ?

Impuls neural yang terbentuk dari perangsangan papilla mammae merupakan stimulus primer bagi pelepasan oksitosin sedangkan distensi vagina dan uterus merupakan stimulus sekunder. Estrogen akan merangsang produksi oksitosin sedangkan progesterone  sebaliknya akan menghambat produksi oksitosin. Selain di hipotalamus, oksitosin juga disintesis di kelenjar gonad, plasenta dan uterus mulai sejak kehamilan 32 minggu dan seterusnya. Konsentrasi oksitosin dan juga aktivitas uterus akan meningkat pada malam hari.
Pelepasan oksitosin endogenus ditingkatkan oleh:
·         Persalinan
·         Stimulasi serviks, vagina dan payudara
·          Estrogen yang beredar dalam darah
·         Peningkatan osmolalitas/konsentrasi plasma
·          Volume cairan yang rendah dalam sirkulasi darah
·         Stress, stress yang disebabkan oleh tangisan bayi akan menstimulasi   pengeluaran ASI
Pelepasan oksitosin disupresi oleh:
·         Alkohol
·         Relaksin
·         Penurunan osmolalitas/konsentrasi plasma
·         Volume cairan yang tinggi dalam sirkulasi darah

Otak merupakan pusat koordinasi di dalam tubuh dan memiliki peran yang sangat penting. Diketahui bahwa otak kita tak terdiri dari milyaran sel otak yang disebut neuron.Setiap neuron saling berkomunikasi (menjalin hubungan) dengan memancarkan gelombang listrik. Gelombang listrik yang dikeluarkan oleh neuron dalam otak inilah yang disebut "gelombang otak" atau brainwave. Jadi yang disebut gelombang otak adalah "arus listrik" yang dikeluarkan oleh otak.

Karakteristik sinyal gelombang yang dikeluarkan oleh otak sebagai berikut :

Gelombang Delta: Penyembuhan, Tidur Sangat Nyenyak
               Kondisi Delta (0.5-4 Hz), saat gelombang otak semakin melambat, sering dihubungkan dengan kondisi tidur yang sangat dalam. Beberapa frekuensi dalam jangkauan Delta ini diiringi dengan pelepasan hormon pertumbuhan manusia (Human Growth Hormone), yang bermanfaat dalam penyembuhan. Kondisi Delta, jika dihasilkan dalam kondisi terjaga, akan menyediakan peluang untuk mengakses aktivitas bawah sadar, mendorong alirannya ke pikiran sadar. Kondisi Delta juga sering dihubungkan dengan manusia-manusia yang memiliki perasaan kuat terhadap empati dan intuisi.
Gelombang Theta: Relaksasi mendalam, Meditasi, Peningkatan Memori
              Lebih lambat dari Beta, kondisi gelombang otak Theta (4-8 Hz) muncul saat kita bermimpi pada tidur ringan. Atau juga sering dinamakan sebagai mengalami mimpi secara sadar. Frekuensi Theta ini dihubungkan dengan pelepasan stress dan pengingatan kembali memori yang telah lama. Kondisi “senjakala” (twilight) dapat digunakan untuk menuju meditasi yang lebih dalam, menghasilkan peningkatan kesehatan secara keseluruhan, kebutuhan kurang tidur, meningkatkan kreativitas dan pembelajaran.
Gelombang Alpha: Kreativitas, Relaksasi, Visualisasi
              Gelombang otak Alpha (8-13 Hz) sangat kontras dibandingkan dengan kondisi Beta. Kondisi relaks mendorong aliran energi kreativitas dan perasaan segar, sehat. Kondisi gelombang otak Alpha ideal untuk perenungan, memecahkan masalah, dan visualisasi, bertindak sebagai gerbang kreativitas kita.
Gelombang Beta: Waspada, Konsentrasi

             Kondisi gelombang otak Beta (13-30 Hz) menjaga pikiran kita tetap tajam dan terfokus. Dalam kondisi Beta, otak Anda akan mudah melakukan analisis dan penyusunan informasi, membuat koneksi, dan menghasilkan solusi-solusi serta ide-ide baru. Beta sangat bermanfaat untuk produktivitas kerja, belajar untuk ujian, persiapan presentasi, atau aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan tinggi.

   Lalu apa hubungannya hormone oksitosin dengan signal gelombang α dan θ yang dikeluarkan oleh otak ??


Seperti yang telah dikatakan diatas bahwa hormon oksitosin merupakan hormon yang yang berfungsi untuk merangsang kontraksi yang kuat pada dinding Rahim (uterus) sehingga mempermudah dalam membantu proses kelahiran. Hormone ini akan mengantarkan pesan / sinyal ke otak melalui Neurotransmiter. Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron. Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel sinapsis, sebelum dilepaskan bertepatan dengan datangnya potensial aksi. Sehingga  neuron pada otak berinteraksi menghasilkan gelombang listrik yang berupa gelombang otak alfa dan gelombang otak theta.



Pada saat proses kelahiran si ibu yang akan melahirkan itu pasti takut/cemas, stress dan deg-degan. Kondisi seperti inilah yang akan menghambat kinerja hormone oksitosin dengan otak untuk membentuk pola gelombang otak alfa dan teta. Hal ini bisa menyebabkan si ibu yang mau melahirkan mengalami pendarahan yang hebat dan bisa mengakibatkan kematian.
 Pada kondisi ini dokter berusaha membentuk pola gelombang otak alfa dan tetha pada si ibu yang mau melahirkan, dengan cara dokter menyuruh si ibu menarik nafas dalam-dalam dan di keluarkan secara perlahan- lahan (rileksasi) agar kondisi ibu tenang dan proses kelahiran dapat berjalan dengan baik.
Karena hormone oksitosin ini sangat penting dalam persalinan serta untuk menghindari pendarahan berlebih. Seperti yang dikatakan diatas bahwa hormone oksitosin ini disekresikan lebih banyak pada malam hari. Dimana ini merupakan waktu gelombang alfha dan tetha. Oleh karena itu biasanya dokter akan membantu ibu yang hendak melahirkan untuk rileks, mencoba memasuki gelombang alfha dan tetha sehingga ibu merasa nyaman dan tidak cemas. Sehingga hormone oksitosin dapat diproduksi dengan baik dan mempercepat proses kelahiran tanpa gangguan.

5)    Jelaskan bagaimana sifat basa dapat dihasilkan oleh gugus OH- pada sakarida ? kaitkan dengan konsep asam dan basa !

Jawaban


Karbohidrat adalah kelompok senyawa yang mengandung unsur C, H, dan O. senyawa-senyawa karbohidrat memiliki sifat pereduksi karena adanya gugus karbonil dalam bentuk aldehid atau keton. Senyawa ini juga memiliki banyak gugus hidroksil. Karena itu, karbohidrat merupakan suatu polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton atau turunan senyawa-senyawa tersebut
Karbohidrat merupakan persenyawaan antara karbon, hidrogen dan oksigen yang terdapat dalam alam dengan rumus empiris Cn(H2O)n. Melihat rumus empiris tersebut, maka senyawa ini pernah diduga sebagai hidrat dari karbon, sehingga disebut karbohidrat.
Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida. Kata sakarida berasal dari kata Arab “sakkar” yang artinya gula. Karbohidrat sederhana mempunyai rasa manis sehingga dikaitkan dengan gula. Berdasarkan gugus fungsinya, karbohidrat merupakan suatu polihidroksialdehida atau polihidroksi keton.

         Karbohidrat berasal dari hidrat suatu karbon dengan rumus empiris Cx(H2O)y, merupakan polihidroksi-aldehid (-C=O) polihidroksi–keton (-C-C=O(COH) dan turunannya.




Berdasarkan hasil hidrolisis dan strukturnya, karbohidrat dibagi atas tiga golongan besar yaitu:
a)    Monosakarida
            Monosakarida adalah karbohidrat yang tak dapat dihidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana. Jika didasarkan pada gugus fungsinya, maka monosakarida secara keseluruhan dibagi atas dua golongan, yaitu ;
·         Aldosa, jika mengandung gugus aldehida. Contoh glukosa, galaktosa, ribosa
·         Ketosa jika mengandung gugus keton. Contoh fruktosa
b)   Oligosakarida
             Oligosakarida adalah karnohidrat yang terbentuk dari kondensasi dua satuan monosakarida yang terikat antara satu dengan yang lainnya melalui ikatan glikosida dalam posisi 1,4 alfa atau 1,4 beta. Oligosakarida yang paling banyak ditemukan adalah disakarida.
Contoh : Sukrosa, Maltosa, dan Laktosa

c)    Polisakarida
             Polisakarida tersusun dari banyak unit monoskarida yang terikat antara satu dengan yang lain melalui ikatan glikosida. Hidrolisis total dari polisakarida menghasilakan monosakarida.
Contoh : Selulosa, Amilum, Glikogen.

          Sukrosa  juga termasuk karbohidrat yang termasuk golongan disakarida karena terdiri dari glukosa dan fruktosa. Monosakarida ini dihubungkan oleh ikatan glikosidik yang berada pada C1 pada glukosa dan C1 pada fruktosa. 



Pada fruktosa , atom C1 terdapat gugus OH yang bersifat basa sehingga menarik Atom H pada C1 di glukosa sehingga terbentuk molekul H2O yang menyebabkan gugus OH terputus pada fruktosa dan membentuk karbokation dan atom O pada glukosa ini memiliki electron bebas dan akan menarik karbonkation pada fruktosa sehingga membentuk ikatan 1,1-glikosidik yang menghubungkan kedua monosakarida tersebut.
Karena gugus OH- menarik ion H+  Maka sifat basa ini seperti konsep asam-basa Bronsted-Lowry yang dimana OH- sebagai Aseptor ( menerima proton H+ ).


Dapat dilihat pada setiap jenis sakarida di atas banyak  terdapat gugus hidroksil (-OH-) pada setiap molekulnya. Untuk melihat sifat basa pada sakarida dapat dilihat pada disakarida, dimana disakarida terbentuk dari reaksi kondensasi dua molekul monosakarida. Reaksi kondensasi sendiri adalah reaksi penggabungan antara dua senyawa yang memiliki gugus fungsi dengan menghasilkan molekul yang lebih besar. Dalam reaksi ini biasanya dibebaskan air. Gugus fungsi yang bereaksi yaitu gugus fungsi bersifat basa dengan gugus fungsi bersifat asam.


Pada pembentukan disakarida, reaksi yang terjadi melibatkan gugus –OH dari atom C anomerik pada monosakarida pertama, dengan suatu gugus –OH yang terikat pada suatu atom C dari monosakarida kedua. Jenis ikatan yang terbentuk adalah ikatan kovalen antara atom C anomerik dengan atom O. Ikatan ini disebut dengan ikatan glikosida (ikatan C-O). Jadi dapat dilihat bahwa pada sakarida memiliki sifat basa karena seperti dalam teori asam basa, bahwa menurut Arhenius basa adalah senyawa yang memiliki gugus hidroksil dan melepaskan gugus hidroksil dalam larutan air.



Pada sakarida banyak mengandung gugus hidroksil dan tidak semua gugus OH bersifat basa. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pada  C1  di fruktosa gugus OH ini bersifat basa karena menarik atom H dari glukosa sehingga membentuk molekul H2O. Dan untuk Glukosa gugus OH yang bersifat Basa adalah atom C1 juga karena pada ikatan yang menghubungkan glukosa dengan glukosa pada maltosa adalah ikatan 1,4-glikosidik dan C4 gugus OH nya melepaskan H+








Tidak ada komentar:

Posting Komentar